Tatkala
Rasulullah khutbah hari Jumat di awal pertumbuhan Islam, masih sedikit para
Shabat yang berada di Masjid. Bersandarlah Rasulullah di pelepah kurma ketika
berkhutbah. Tibalah Islam mulai Berjaya dan para Shahabat mulai banyak dating ke
masjid. Muncullah ide kreatif Umar untuk membikinkan minbar buat nabi saw
ketika khutbah.
Kita termasuk golongan mana ?
Ada
Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah, pada suatu hari dimana tidak
ada naungan kecuali naungan Alllah :
استحباب تقديم اليمين
في كل ما هو من باب التكريم كالوضوء
والغسل والتيمم ولبس الثوب والنعل والخف والسراويل ودخول المسجد والسواك والاكتحال
وتقليم الأظفار وقص الشارب ونتف الإبط وحلق الرأس والسلام من الصلاة والأكل والشرب
والمصافحة واستلام الحجر الأسود والخروج من الخلاء والأخذ والعطاد وغير ذلك مما هو
في معناه ويستحب تقديم اليسار في ضد ذلك كالامتخاط والبصاق عن اليسار ودخول الخلاء
والخروج من المسجد وخلع الخف والنعل والسراويل والثوب والاستنجاء وفعل المستقذرات
وأشباه ذلك و
قال الله تعالى " فأما من أوتي كتابه بيمينه فيقول هاؤم اقرءوا كتابيه" الآيات الحاقة
قال تعالى " فأصحاب الميمنة ما أصحاب الميمنة وأصحاب المشئمة ما أصحاب المشئمة " الواقعة
وعن عائشة رضي الله عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعجبه التيمن في شأنه كله في طهوره وترجله وتنعله متفق عليه
قال الله تعالى " فأما من أوتي كتابه بيمينه فيقول هاؤم اقرءوا كتابيه" الآيات الحاقة
قال تعالى " فأصحاب الميمنة ما أصحاب الميمنة وأصحاب المشئمة ما أصحاب المشئمة " الواقعة
وعن عائشة رضي الله عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعجبه التيمن في شأنه كله في طهوره وترجله وتنعله متفق عليه
Wahai Para Pemimpin......
Dua Sifat Penting diri seorang Pemimpin dapat diambil
Al-Habib Hasan Baharun Muassis Ma`had Darullughah Wadda`wah.
1. Kesederhanaan
2. Fimiliar
Dua sikap terpuji ini merupakan konsistensi Iman seseorang,
artinya mustahil seseorang memilki dua sifat terpuji ini kalau tidak ditopang
dengan kondisi iman yang sehat dan benar. Sebenarnya dua sikap moral ini tumbuh
dan berkembang dari sifat tulus dan jujur.
Selain itu seseorang akan pemimpin harus ulet dan sabar karena
sesuai dengan ayat Alquran Ishbiru, wa shobiru, wa robithu.
Entertainment Haram!
Maukah Anda memberi makan anak-anak anda dari
sesuatu yang Haram?
Apakah Anda mau mendebat Nabi dengan
Hujjah-Hujjah Hawa Nafsu?
"Jasad Rasulullah Dicuri"
Sebuah peristiwa terjadi pada tahun 557 H/1162 M yang
dikutib dalam kitab Khulafatul Wafa bi Akhbaril Mushtofa. Suatu malam
Sultan Nuruddin Mahmud Janki bermimpi melihat Nabi SAW menunjuk kepada dua
orang berkulit putih seraya berteriak meminta tolong kepada beliau,”Tolong,
selamatkan aku dari dua orang ini!.
Sistem Pemerintahan Umar , Rakyat Makmur
Ketika Abu Bakar menderita penyakit parah,
kekhawatiran terbesit dihatinya. Ia takut umat Islam berselisih pendapat
tentang siapa yang akan menjadi kahilfah setelah beliau berpulang ke
hadapan Allah, sebagaimana yang terjadi pasca wafatnya Rasulullah saw.
Agar hal itu tidak terulang kembali, Sayyidina Abu
Bakar langsung menunjuk pengganti untuk menempati posisinya. Dengan
pertimbangan matang, ia mempercayakan posisi itu kepada Umar bin al Khattab.
Sebab Sayyidina Umar dipandang paling pantas untuk mengemban amanah agung ini.
Dan kenyataannya, pada masa kepemerintahan Sayyidina
Umar, kedaulatan Islam semakin membaik, perluasan kekuasan terus bergerak, dan
kemakmuran semakin memperindah catatan kepemimpinannya.
Tahukah Anda Ayat Yang pertama kali turun di kota Makkah dan Madinah ?
1.
Ayat Alquran pertama yang pertama turun di Makkah : {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ}( Al-`alaq 1 )
2.
Ayat Al-quran yang pertama turun di kota Madinah:
Surah Al-Baqarah,
Surah Al-Baqarah,
ada
yang mengatakan :
{ويل للمطففين} ( Al-Muthofifin 1 )
{ويل للمطففين} ( Al-Muthofifin 1 )
Ayat makiyah ataukah madaniyah?
اختلف العلماء في
المكي والمدني على ثلاثة أقوال:
أشهرها:
أن المكّيّ: ما نزل قبل الهجرة, والمدنيّ:
ما نزل بعدها, سواء نزل بمكة المكرمة أم بالمدينة المنورة, عام الفتح أو عام
حجة الوداع, في الحضر أم في السفر, هذا هو الأصح في تعريفهما.
الثاني:
أن المكي: ما نزل بمكة المكرَّمة
ولو بعد الهجرة, والمدني: ما نزل بالمدينة المنورة, فما نزل في الأسفار لا
يطلق عليه مكي ولا مدني, بل يقال له: سفري.
الثالث:
أن المكي: ما وقع خطابًا لأهل مكة المكرمة, والمدني: ما وقع خطابًا
لأهل المدينة المنورة.
علامات
للمكّيّ والمدنيّ:
Nabi Muhamad seperti Manusia Biasa ?
مقـام المخلـوق أما هو صلى الله عليه وسلم فإننا
نعتقد أنه صلى الله عليه وسلم بشر يجوز عليه ما يجوز على غيره من البشر من حصول
الأعراض والأمراض التي لا توجب النقص والتنفير كما قال صاحب العقيدة
: وجائز في حقهم من عرض :: بغير نقص كخفيف المرض وأنه صلى الله
عليه وسلم عبد لا يملك لنفسه ضراً ولا نفعاً ولا موتاً قُل لاَّ}ولا حياة ولا نشوراً
إلا ما شاء الله ،
Bagaimana Menempatkan Sifat Malu ?
لا يكون الحياء في حد ذاته مذموماً إلا
ما صور بصورة الحياء وليس من الحياء المحمود، وذلك أن يراعي الإنسان جانب الخلق أو
جانب النفس مقابل الشرع المطهر المصون فيترك أمر الشرع ويقول استحييت وما ذلك
بحياء، فإن الحياء لا يأتي إلا بخير كما أخبر صلَّى الله عليه وآله وصحبه وسلَّم،
فالذي يترك واجباً من الواجبات ويقول: استحييت من الناس، أو يشارك الناس في مخالفة
للشريعة، مالك؟ قال:
Insiklopedia Surah An-Nas
سورة
الناس
Artinya
:manusia
Surat
An-nasdanSurat Al Falaqditurunkanbersamaan yang
kemudiankeduasurattersebutdinamakan Al Mu`awidzatain
Pengertiansurat
An-nas :
Maulid Bid`ah ?
مجالس
الموالد كغيرها من جميع المجالس؛ إن كان ما يجري فيها من الأعمال صالح وخير،
كقراءة القران، والذكر للرحمن، والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، وإطعام
الطعام للإكرام ومن أجل الله تعالى، وحمد الله تعالى، والثناء على رسوله صلى الله
عليه وسلم، ودعاء الحق سبحانه، والتذكير والتعليم، وأمثال ذلك مما دعت إليه
الشريعة ورغبت فيه؛ فهي مطلوبة ومندوبة شرعاً، يحوز فاعلها إذا أخلص لله الثواب من
الله
Apa cinta itu?
Jangan Putus asa dalam berdoa
Jangan Putus Asa Dalam Berdo'a... ?Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu?
Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus asa dalam berdoa.Mengapa demikian? Karena nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam kondisi demikian manusia seringkali berputus asa, dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan karena manusia merasa bahwa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah.Tanpa disadari bahwa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur (hadir) bersama Allah.
Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahwa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga hal:
Pertama, seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan total, sehingga ia meraih ridha-Nya. Hamba ini senantiasa bergantung dengan-Nya, baik doa itu dikabulkan seketika maupun ditunda. la tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.
Kedua, seseorang tegak di depan pintu-Nya dengan harapan penuh pada janji-Nya dan memandang aturan-Nya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang teledor dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, toh syariatnya menjadi besar dalam hatinya.
Ketiga, seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semoga Allah mengampuninya.
Syekh Abu Muhammad Abdul Aziz al-Mahdawi mengatakan, ?Siapa pun yang tidak menyerahkan pilihannya dengan suka rela kepada Allah Ta'ala, maka orang tersebut terkena istidraj (sanjungan yang terhinakan). Orang tersebut termasuk golongan mereka yang disebut oleh Allah: ?Penuhilah kebutuhannya, karena Aku benci mendengarkan keluhannya.? Tetapijika seseorang memasrahkan pada pilihan Allah, bukan pilihan dirinya, maka otomatis doanya telah terkabul, walaupun beium terwujud bentuknya. Sebab amal itu sangat tergantung pada saat akhirnya. ?
Wacana di atas dilanjutkan:
?Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehen-daki.?
Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :?Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu. ?
Allah menjamin pengabulan itu melalui janji-Nya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak menfirmankan dengan kata-kata, ?menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri.?
Dalam hadits Rasutullah SAW bersabda: ?Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini: Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengka-bulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya.? (HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim).
Dalam hadits lain disebutkan, ?Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, (sampai akhirnya) seseorang mengatakan, ?Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku. ? (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam menafsiri suatu ayat ?Telah benar-benar doa kalan berdua di ijabahi? maksudnva baru 40 tahun diijabahi doanya. Menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, perihal firman Allah: ?Maka hendaknya kalian berdua istiqamah?, maksudnya adalah ?tidak tergesa-gesa?. Sedangkan ayat, ?Dan janganlah kalian mengikuti jalannya orang-orang yang tidak mengetahui?, maksudnya adalah orang-orang yang menginginkan agar disegerakan ijabah doanya. Bahwa ijabah doa itu diorientasikan pada pilihan Allah, baik dalam bentuk yang riil ataupun waktunya, semata karena tiga hal:
Pertama, karena kasih sayang dan pertolongan Allah pada hamba-Nya. Sebab Allah Maha Murah, Maha Asih dan Maha Mengetahui. Dzat Yang Maha Murah apabila dimohon oleh orang yang memuliakan-Nya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut Kemahatahuan-Nya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih bermashlahat. Terkadang seorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.
Kedua, bahwa sikap tergantung pada pilihan Allah itu merupakan sikap yang bisa mengabadikan hukum-hukum ubudiyah, di samping lebih mengakolikan wilayah rububiyah. Sebab manakala suatu ijabah doa itu tergantung pada selera hamba dengan segala jaminannya, niscaya doa itu sendiri lebih mengatur Allah. Dan hal demikian suatu tindakan yang salah.
Ketiga, doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahasia doa adalah menunjukkan betapa seorang hamba itu serba kekurangan. Kalau saja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kurang itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahasia taklif (kewajiban ubudiyah) menjadi keliru, padahal arti dari doa adalah adanya rahasia taklij'itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana selanjutnya:
?Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata.?
Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan sampai membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri dibalik semua itu, yaitu melanggengkan rububiyah atas ubudiyah hamba-Nya. Syarat-syarat ijabah atasjanji-Nya, terkadang tidak terpenuhi oleh hamba-Nya. Karena itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah. Tetapi Allah menutupi syarat-syarat meraih pertolongan itu, yaitu syarat adanya sikap ?merasa hina? di hadapan Allah yang bisa menjadi limpahan pertolongan itu sendiri. Sebab Allah berfirnian dalam At-Taubah: ?Allah benar-benar menolongmu pada Perang Badar, ketika kamu sekalian merasa hina ?.
Kenapa demikian? Sebab sikap meragukan janji Allah itu bisa mengaburkan pandangan hati kita terhadap karunia Allah sendiri. As-Sakandari meneruskan:
?Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahasia batinmu?.
Bahwa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahasia batin, karena sikap skeptis terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan dibalik janji Allah itu.
Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus asa dalam berdoa.Mengapa demikian? Karena nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam kondisi demikian manusia seringkali berputus asa, dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan karena manusia merasa bahwa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah.Tanpa disadari bahwa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur (hadir) bersama Allah.
Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahwa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga hal:
Pertama, seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan total, sehingga ia meraih ridha-Nya. Hamba ini senantiasa bergantung dengan-Nya, baik doa itu dikabulkan seketika maupun ditunda. la tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.
Kedua, seseorang tegak di depan pintu-Nya dengan harapan penuh pada janji-Nya dan memandang aturan-Nya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang teledor dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, toh syariatnya menjadi besar dalam hatinya.
Ketiga, seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semoga Allah mengampuninya.
Syekh Abu Muhammad Abdul Aziz al-Mahdawi mengatakan, ?Siapa pun yang tidak menyerahkan pilihannya dengan suka rela kepada Allah Ta'ala, maka orang tersebut terkena istidraj (sanjungan yang terhinakan). Orang tersebut termasuk golongan mereka yang disebut oleh Allah: ?Penuhilah kebutuhannya, karena Aku benci mendengarkan keluhannya.? Tetapijika seseorang memasrahkan pada pilihan Allah, bukan pilihan dirinya, maka otomatis doanya telah terkabul, walaupun beium terwujud bentuknya. Sebab amal itu sangat tergantung pada saat akhirnya. ?
Wacana di atas dilanjutkan:
?Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehen-daki.?
Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :?Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu. ?
Allah menjamin pengabulan itu melalui janji-Nya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak menfirmankan dengan kata-kata, ?menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri.?
Dalam hadits Rasutullah SAW bersabda: ?Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini: Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengka-bulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya.? (HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim).
Dalam hadits lain disebutkan, ?Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, (sampai akhirnya) seseorang mengatakan, ?Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku. ? (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam menafsiri suatu ayat ?Telah benar-benar doa kalan berdua di ijabahi? maksudnva baru 40 tahun diijabahi doanya. Menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, perihal firman Allah: ?Maka hendaknya kalian berdua istiqamah?, maksudnya adalah ?tidak tergesa-gesa?. Sedangkan ayat, ?Dan janganlah kalian mengikuti jalannya orang-orang yang tidak mengetahui?, maksudnya adalah orang-orang yang menginginkan agar disegerakan ijabah doanya. Bahwa ijabah doa itu diorientasikan pada pilihan Allah, baik dalam bentuk yang riil ataupun waktunya, semata karena tiga hal:
Pertama, karena kasih sayang dan pertolongan Allah pada hamba-Nya. Sebab Allah Maha Murah, Maha Asih dan Maha Mengetahui. Dzat Yang Maha Murah apabila dimohon oleh orang yang memuliakan-Nya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut Kemahatahuan-Nya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih bermashlahat. Terkadang seorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.
Kedua, bahwa sikap tergantung pada pilihan Allah itu merupakan sikap yang bisa mengabadikan hukum-hukum ubudiyah, di samping lebih mengakolikan wilayah rububiyah. Sebab manakala suatu ijabah doa itu tergantung pada selera hamba dengan segala jaminannya, niscaya doa itu sendiri lebih mengatur Allah. Dan hal demikian suatu tindakan yang salah.
Ketiga, doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahasia doa adalah menunjukkan betapa seorang hamba itu serba kekurangan. Kalau saja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kurang itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahasia taklif (kewajiban ubudiyah) menjadi keliru, padahal arti dari doa adalah adanya rahasia taklij'itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana selanjutnya:
?Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata.?
Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan sampai membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri dibalik semua itu, yaitu melanggengkan rububiyah atas ubudiyah hamba-Nya. Syarat-syarat ijabah atasjanji-Nya, terkadang tidak terpenuhi oleh hamba-Nya. Karena itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah. Tetapi Allah menutupi syarat-syarat meraih pertolongan itu, yaitu syarat adanya sikap ?merasa hina? di hadapan Allah yang bisa menjadi limpahan pertolongan itu sendiri. Sebab Allah berfirnian dalam At-Taubah: ?Allah benar-benar menolongmu pada Perang Badar, ketika kamu sekalian merasa hina ?.
Kenapa demikian? Sebab sikap meragukan janji Allah itu bisa mengaburkan pandangan hati kita terhadap karunia Allah sendiri. As-Sakandari meneruskan:
?Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahasia batinmu?.
Bahwa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahasia batin, karena sikap skeptis terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan dibalik janji Allah itu.
Menepis sifat sombong

SOMBONG, takabbur, atau merasa diri besar adalah masalah yang sangat serius. Kita harus berhati-hati dengan persoalan ini. Sebab kesombongan inilah yang menyebabkan setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk oleh Allah selamanya. Hadirnya rasa takabbur sangat halus sekali. Banyak orang telah merasa tawadhu (rendah hati) padahal dirinya di mata orang lain sedang menunjukkan sikap takabburnya. Tentang sikap takabbur ini Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan masuk surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu. (HR Muslim). Allah benar-benar mengharamkan surga untuk dimasuki orang-orang takabbur. Takabbur hanya layak bagi Allah yang memang memiliki keagungan sempurna. Sedang seluruh makhluk hanya sekadar menerima kemurahan dari-Nya.
Penyakit takabbur memang benar-benar seperti bau busuk yang tidak dapat ditutup-tutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dapat dirasakan oleh hati siapapun.
Perhatikan penampilan orang takabbur! Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan nafas, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhan. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, berpakaian, gerak-gerik tangan bahkan hingga ke jari-jari kaki. Semuanya menunjukkan gambaran orang yang benar-benar buruk perangainya.
Ada pertanyaan menarik. Pantaskah sebenarnya orang bersikap takabbur, jika seluruh kebaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah padanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai kambing. Tentu saja saat itu tidak ada lagi yang bisa disombongkan. Atau kalau Allah mau, dia bisa terlahir dengan kemampuan otak yang minim. Bahkan jika Allah takdirkan dia lahir di tengah-tengah suku pedalaman di hutan belantara, maka pada saat ini mungkin dia tengah mengejar babi hutan untuk makan malam. Apa lagi yang bisa disombongkan?
Marilah kita berhati-hati dari bahaya kesombongan ini. Jika penyakit ini datang pada kita, kita akan sengsara. Langkah kehati-hatian ini bisa dimulai dengan mengenali ciri-ciri kesombongan. Rasulullah SAW bersabda: Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. (HR Muslim). Jika dalam hati kita ada satu dari dua hal ini, atau kedua-duanya ada, itu pertanda kita telah masuk dalam deretan orang-orang sombong.
Sebagian orang ada yang merasa dirinya paling mulia, baik, salih, dekat pada Allah, dikabul doanya, berkah urusannya, dan lainnya. Ketika ada kebaikan lalu kita laporkan padanya, dia berkata: Oh, siapa dulu dong yang mendoakannya? Dan ketika kita datang padanya dengan keluhan berupa musibah, dia berkata: Ah, itu sih tidak aneh, saya pernah mengalaminya lebih parah dari itu.
Ini adalah gambaran kesombongan. Orang merasa diri lebih dekat pada Allah, lalu memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan. Perilaku seperti ini jika diteruskan akan merugikan pelakunya. Hakikatnya, semua kebaikan dan keburukan terjadi karena izin Allah. Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa semuanya (kebaikan dan keburukan itu) adalah dari sisi (atas takdir) Allah. (QS An Nisaa 4:78). Kita tidak berdaya membuat kebaikan dan keburukan jika Allah tidak menghen daki hal itu terjadi. Sekalipun berupa doa atau puasa, tidak bisa dijadikan alasan bahwa kita punya kuasa atas kebaikan dan keburukan. Wallahu alam***
Penyakit takabbur memang benar-benar seperti bau busuk yang tidak dapat ditutup-tutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dapat dirasakan oleh hati siapapun.
Perhatikan penampilan orang takabbur! Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan nafas, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhan. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, berpakaian, gerak-gerik tangan bahkan hingga ke jari-jari kaki. Semuanya menunjukkan gambaran orang yang benar-benar buruk perangainya.
Ada pertanyaan menarik. Pantaskah sebenarnya orang bersikap takabbur, jika seluruh kebaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah padanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai kambing. Tentu saja saat itu tidak ada lagi yang bisa disombongkan. Atau kalau Allah mau, dia bisa terlahir dengan kemampuan otak yang minim. Bahkan jika Allah takdirkan dia lahir di tengah-tengah suku pedalaman di hutan belantara, maka pada saat ini mungkin dia tengah mengejar babi hutan untuk makan malam. Apa lagi yang bisa disombongkan?
Marilah kita berhati-hati dari bahaya kesombongan ini. Jika penyakit ini datang pada kita, kita akan sengsara. Langkah kehati-hatian ini bisa dimulai dengan mengenali ciri-ciri kesombongan. Rasulullah SAW bersabda: Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. (HR Muslim). Jika dalam hati kita ada satu dari dua hal ini, atau kedua-duanya ada, itu pertanda kita telah masuk dalam deretan orang-orang sombong.
Sebagian orang ada yang merasa dirinya paling mulia, baik, salih, dekat pada Allah, dikabul doanya, berkah urusannya, dan lainnya. Ketika ada kebaikan lalu kita laporkan padanya, dia berkata: Oh, siapa dulu dong yang mendoakannya? Dan ketika kita datang padanya dengan keluhan berupa musibah, dia berkata: Ah, itu sih tidak aneh, saya pernah mengalaminya lebih parah dari itu.
Ini adalah gambaran kesombongan. Orang merasa diri lebih dekat pada Allah, lalu memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan. Perilaku seperti ini jika diteruskan akan merugikan pelakunya. Hakikatnya, semua kebaikan dan keburukan terjadi karena izin Allah. Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa semuanya (kebaikan dan keburukan itu) adalah dari sisi (atas takdir) Allah. (QS An Nisaa 4:78). Kita tidak berdaya membuat kebaikan dan keburukan jika Allah tidak menghen daki hal itu terjadi. Sekalipun berupa doa atau puasa, tidak bisa dijadikan alasan bahwa kita punya kuasa atas kebaikan dan keburukan. Wallahu alam***
مكانة المرأة في الإسلام
مكانة المرأة في الإسلام
المرأة من أول أمرها خلقت كفأ فيما يحتاجه في تنشيق حياته الدنيوية و الأخروية . فالمرأة غير الرجل والرجل غير المرأة هما شتان لا يفترقان. فلن يسعد الرجل بدونها مهما بلغ ما بلغ بما وقع لنبي الله أدم عليه السلام لما أصابه القلق و الإضطراب لعدم صاحب يصحبه ومخاطب يخطبه و ملجاء يلجاء إليه, فخلق الله جل شأنه أمنا حواء , بها اطمان إليها وإليها استئنس. لقد صدق جلا وعلا حيث قال "ومن اياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة"
فالمرأة هي أصل السلالة ومنها تفرعت القبائل وإن أهمل التاريخ عن وجودها ولم يسجل عنها إلا شرذمة قليلة , للمرأة مجال عظيم و دور كبير في إعداد إجيال يعانون مشاق الأمة و يباشرون مشكلاتهم لحلها , ولله دره القائل :
الأم مدرسة إن أعددتها # أعددت شعبا طيب الأعراق
كم من مرأة أملت التاريخ حتى يعرف بالعصر الذهبي, ترى كيف تحمل سيدتنا هاجر أم إسماعيل عليه السلام أيام تغريبها في بلد غير ذي زرع , فلا تضجر ولا تيئس مع ما جرى عليها من الحطب لا طعام يؤكل ولا شرب يشرب ولا مسكن يسكن , فمن ثمرة صبرها يتشرف من ترائبها ذراري كالجواهر النادرة و توارد منها الأئمة و النبلاء يقتدى بهم ويضرب بهم المثل في الشجاعة والكرم والجود على رأسهم النبي الأكرم والرسول الأعظم حيث قال : أنا من ولد إسماعيل (الحديث) , فالمرأة مصدر صلاح الأفراد وأصل أصيل في نجاح الشعب ولا سبيل للوصول الى تكوين المجتمع المتمدن ذي جاه لدى غيرهم إلا باعتناء كامل واهتمام تام بشؤون نسائهم وأولادهم خلقا وعلما قال الشاعر:
ربوا البنات على الفضيلـة إنها # في الموقفين لـهن خير ووثاق
وعليكم أن تستبـين بناتـكم # نور الهدى وعلى الحياء البـاقي
فقد أخطأ الزاعمين أن الإسلام يحول بينهن وبين العلم فهذا وهم باطل وبهتان عظيم, ألا يقرأ تاريخ الإسلام فيعرف ويجد من شهيرات النساء بالعلم والفضل عددا لا تحصى , أمثالهن أزواج المصطفى صلى الله عليه وسلم ورضى الله عنهن كل منهن تروي حديثا خصوصا السيدة عائسة فإنها عدت من المكثرين العشرة في الحديث . وروي أن نساء الصحابة أتين النبي صلى الله عليه وسلم قائلات : يارسول الله ذهب الرجال بحديثك فاجعل لنا من نفسك يوما نأتيك فيه تعلمنا مما علمك الله ففعل ما يردن , وقد حكي أنه تخرج من يد السيدة نفيسة نزيلة مصر العلماء الأعلام والأئمة الكرام من الفقهاء و المفسرين و المحدثين.
والحاصل أن للمرأة دخلا كبيرا في مستقبل الأمة ولا ينبغي الإهمال بجميع أمرها سيما في هذا العصر الحاضر حيث كان اليهود وراء كل جريمة , لقد أتى وعيهم بعد ممارسة طويلة وسنوات مديدة أن هلاك الإسلام و المسلمين بل وهلاك العالم بفساد النساء, عليكم أيها الأباء الكرام ألا تدعوا نسائكم وبناتكم يتبرجن تبرج الجاهلية الأولى كاسيات لكنهن عاريات وأن يلبسوهن الحجاب . فهو بالنسبة للمسلمة كفريضة الصلاة والصيام ليصون لها كرامتها ويحفظ عليها عفافها ويحميها من النظرات الجارحة والكلمات اللاذعة والنفوس المريضة من فساق الرجال وإلا فلا يلومن إلا نفسة
المرأة من أول أمرها خلقت كفأ فيما يحتاجه في تنشيق حياته الدنيوية و الأخروية . فالمرأة غير الرجل والرجل غير المرأة هما شتان لا يفترقان. فلن يسعد الرجل بدونها مهما بلغ ما بلغ بما وقع لنبي الله أدم عليه السلام لما أصابه القلق و الإضطراب لعدم صاحب يصحبه ومخاطب يخطبه و ملجاء يلجاء إليه, فخلق الله جل شأنه أمنا حواء , بها اطمان إليها وإليها استئنس. لقد صدق جلا وعلا حيث قال "ومن اياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة"
فالمرأة هي أصل السلالة ومنها تفرعت القبائل وإن أهمل التاريخ عن وجودها ولم يسجل عنها إلا شرذمة قليلة , للمرأة مجال عظيم و دور كبير في إعداد إجيال يعانون مشاق الأمة و يباشرون مشكلاتهم لحلها , ولله دره القائل :
الأم مدرسة إن أعددتها # أعددت شعبا طيب الأعراق
كم من مرأة أملت التاريخ حتى يعرف بالعصر الذهبي, ترى كيف تحمل سيدتنا هاجر أم إسماعيل عليه السلام أيام تغريبها في بلد غير ذي زرع , فلا تضجر ولا تيئس مع ما جرى عليها من الحطب لا طعام يؤكل ولا شرب يشرب ولا مسكن يسكن , فمن ثمرة صبرها يتشرف من ترائبها ذراري كالجواهر النادرة و توارد منها الأئمة و النبلاء يقتدى بهم ويضرب بهم المثل في الشجاعة والكرم والجود على رأسهم النبي الأكرم والرسول الأعظم حيث قال : أنا من ولد إسماعيل (الحديث) , فالمرأة مصدر صلاح الأفراد وأصل أصيل في نجاح الشعب ولا سبيل للوصول الى تكوين المجتمع المتمدن ذي جاه لدى غيرهم إلا باعتناء كامل واهتمام تام بشؤون نسائهم وأولادهم خلقا وعلما قال الشاعر:
ربوا البنات على الفضيلـة إنها # في الموقفين لـهن خير ووثاق
وعليكم أن تستبـين بناتـكم # نور الهدى وعلى الحياء البـاقي
فقد أخطأ الزاعمين أن الإسلام يحول بينهن وبين العلم فهذا وهم باطل وبهتان عظيم, ألا يقرأ تاريخ الإسلام فيعرف ويجد من شهيرات النساء بالعلم والفضل عددا لا تحصى , أمثالهن أزواج المصطفى صلى الله عليه وسلم ورضى الله عنهن كل منهن تروي حديثا خصوصا السيدة عائسة فإنها عدت من المكثرين العشرة في الحديث . وروي أن نساء الصحابة أتين النبي صلى الله عليه وسلم قائلات : يارسول الله ذهب الرجال بحديثك فاجعل لنا من نفسك يوما نأتيك فيه تعلمنا مما علمك الله ففعل ما يردن , وقد حكي أنه تخرج من يد السيدة نفيسة نزيلة مصر العلماء الأعلام والأئمة الكرام من الفقهاء و المفسرين و المحدثين.
والحاصل أن للمرأة دخلا كبيرا في مستقبل الأمة ولا ينبغي الإهمال بجميع أمرها سيما في هذا العصر الحاضر حيث كان اليهود وراء كل جريمة , لقد أتى وعيهم بعد ممارسة طويلة وسنوات مديدة أن هلاك الإسلام و المسلمين بل وهلاك العالم بفساد النساء, عليكم أيها الأباء الكرام ألا تدعوا نسائكم وبناتكم يتبرجن تبرج الجاهلية الأولى كاسيات لكنهن عاريات وأن يلبسوهن الحجاب . فهو بالنسبة للمسلمة كفريضة الصلاة والصيام ليصون لها كرامتها ويحفظ عليها عفافها ويحميها من النظرات الجارحة والكلمات اللاذعة والنفوس المريضة من فساق الرجال وإلا فلا يلومن إلا نفسة
Subscribe to:
Posts (Atom)

